(MUAMALAH) ASURANSI SYARIAH; Agen Sebagai Mujahid Ekonomi

“Asuransi/ Tabarru Dasarnya Syariah”
Asuransi UnitLINk, Mengembalikan Konsep Asuransi Sebenarnya

Agen Asuransi sebagai Mujahid Ekonomi

Seorang pemasar asuransi UNITLINK melakukan pekerjaan yang paling mulia didunia ini. Produk yang dijual merupakan yang terbaik yang pernah ada di dunia ini. Tetapi di sisi lain, dia melakukan pekerjaan yang sangat sulit yaitu meminta orang-orang untuk mengeluarkan uang sejumlah ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, hanya untuk mendapatkan selembar kertas. Agar transaksi penjualan berhasil, merupakan tantangan bagi kita untuk membuat kertas itu menjadi sesuatu yang hidup, bernafas dan benar-benar nyata. Ini bukan pekerjaan yang mudah.

Kita harus menjual besok, bukan hari ini. Kita harus menjual rasa aman, kedamaian, martabat seorang manusia, kebebasan akan rasa takut, kebebasan atas keinginan. Kita harus menjual roti, susu, pendidikan bagi anak-anak tercinta, tempat tinggal yang pantas, hadiah, mainan yang
baik dan hadiah ulang tahun. Kita harus menjual kasih sayang sebuah keluarga dan ras bangga memilikinya. Kitapun harus menjual harapan, angan-angan dan do’a. Setiap orang memerlukan asuransi. Menjadi tugas kita untuk mengubah”kebutuhan” menjadi “keinginan” untuk memiliki. Kita sadar, perlu pemikiran serius untuk melakukannya. Kita hanya bisa melakukannya dengan motivasi yang disalurkan dari hati ke hati.

Diantara kita, sesama pemasar asuransi, bukanlah pesaing bisnis. Kita adalah kolega. Pesaing kita yang sesungguhnya adalah para pemasar produk-produk yang nyata seperti mobil, TV, lemari es, dll. Merekalah yang seringkali mengalihkan arus uang yang seharusnya masuk ke dalam asuransi jiwa malah menjadi bentuk yang lain. Hanya dengan penjualan melalui hati, barulah kita
bias mendapatkan bagian yang memang seharusnya menjadi anggaran untuk asuransi mereka.

Asuransi Dari Masa ke Masa
Polis asuransi jiwa tradisional adalah polis asuransi yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu di dunia. Tepatnya dimulai di Inggris pada tahun 1706 berdiri The Amicable of London sebagai suatu perusahaan Asuransi Jiwa yang berdasarkan gotong royong. Kemudian, pada tahun 1762 berdiri The Equitable of London yang didasari dengan pemikiran yang lebih maju dan ilmiah. Kemudian dengan bersamaan berkembangnya dengan exodus besar-besaran penduduk Eropa ke Amerika Serikat maka sekitar tahun 1840 mulai lahir lembaga-lembaga asuransi jiwa mutual seperti :
The New England Mutual Life Ins Comp
The Mutual Life Insurance of New York
The State Mutual Life Ins Comp of Worchester
Sekitar tahun 1850 beberapa perseroan terbatas (Stock Company) mulai melakukan kegiatan, diantaranya :
The Manhattan Life
The United State Life

UNIT LINKED, Mengembalikan Asuransi ke Syariah
Bisnis asuransi bermula dari polis tradisional, karena banyak juga nasabah yang merasa “gambling” dalam berasuransi, maka munculah program asuransi yang dapat memberikan nilai saving bila resiko tidak terjadi. Kemudian berkembang dengan pesat mulai diseluruh dunia mulai 1957 termasuk di Indonesia (tahun 1998) dengan nama lain Investment Linked (Singapura dan Malaysia) dan polis asuransi variable life (Amerika Serikat) atau Unitlink (Indonesia).

Fundamental asuransi UNITLINK sebenarnya syariah. Akad Unitlink adalah tijarah (jual beli/ investasi), sementara iuran asuransi sebagai akad tabarru (kebajikan) terpisah, iuran dipotong dari saldo investasinya. Jadi premi yang disetor bukan sebagai iuran asuransi, seperti halnya premi asuransi tradisional.

Dana kelola yang terpisah antara bisnis (investasi mudharabah/ akad tijarah/ jual beli) dan kebajikan/ tolong menolong (akad tabarru). Sehingga nasabah akan terbebas dari gharar/ ketidak jelasan & maysir/ judi (karena biaya asuransi/ tabarru terpisah dari investasi), maupun riba (karena investasi bagi hasil dan bukan utang piutang). Polis asuransi jiwa unit linked atau investment linked adalah polis asuransi jiwa individu yang memberikan manfaat proteksi asuransi jiwa (dasar dan tambahan).

Beda Akad Jual Beli (Tijarah) dan Akad Tabarru (Kebajikan)

Beda Akad Jual Beli (Tijarah) dan Akad Tabarru (Kebajikan)

Skema Aliran Dana UnitLINKPremi asuransi dihitung Aktuaria, Premi investasi dihitung agen & nasabah

Bukti Premi Investasi bukan AsuransiAplikasi UnitLINKDua Kelompok Asuransi

Mudharabah Musytarakah Asuransi (Kontribusi dari Administrator)
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 51/DSN-MUI/III/2006 tentang
Mudharabah Musytarakah pada Asuransi Syariah.
Menimbang :
Mengingat :
1. Firman Allah SWT, antara lain:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang
mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahtera-an) mereka. Oleh
sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar.” (QS. al-Nisa’ [4]:9).
“Hai orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah dibuat untuk hari esok (masa depan). Dan bertaqwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Hasyr [59]:18).
“…Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian dari mereka
berbuat zalim kepada sebagian lain, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh;
dan amat sedikitlah mereka ini…” (QS. Shad [38]:24).
“Hai orang yang beriman! Tunaikanlah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali
yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika
kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hokum-hukum menurut yang
dikehendaki-Nya. (QS. al-Maidah [5]:1)
“Hai orang yang beriman! Janganlah kalian memakan (mengambil) harta orang lain secara batil,
kecuali jika berupa perdagangan yang dilandasi atas sukarela di antara kalian. Dan janganlah
kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. al-
Nisa’ [4]:29)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya
dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah dengan adil. Sesungguhnya
Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. an-Nisa [4]:58).
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolongmenolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya
Allah amat berat siksa-Nya” (QS. al-Maidah [5]:2)
2. Hadis-hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang beberapa prinsip bermu’amalah, antara
lain:, antara lain:
“Allah swt. berfirman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu
pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari
mereka.” (HR. Abu Daud, yang dishahihkan oleh al-Hakim, dari Abu Hurairah).
“Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan
kesulitan darinya pada hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka)
menolong saudaranya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
“…Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat kecuali syarat yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf)
3. Kaidah fiqh:
“Pada dasarnya, semua bentuk mu’amalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya.”
Memperhatikan:
1. Pendapat para ulama, antara lain:
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam pergi berniaga sebagai mudharib ke Syam dengan harta
Sayyidah Khadijah binti Khuwailid sebelum menjadi nabi; setelah menjadi nabi, beliau
menceritakan perniagaan tersebut sebagai penegasan (taqrir).” (Ibn Hisyam, al-Sirah al-
Nabawiyah, [al-Qahirah: Dar al-Hadis, 2004], juz I, h. 141; Muhammad Abd al-Mun’im Abu Zaid,
Nahwa Tathwir al-Mudharabah, [al-Qahirah: Maktabah al-Ma’had al-‘Alami li-al-Fikr al-Islami,
2000], h. 411).
“Mudharabah adalah akad yang disyari’atkan tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqh.
Dalil pensyari’atan tersebut ditetapkan dengan ijma’ yang didasarkan pada sunnah
taqririyah.” (Muhammad Abd al-Mun’im Abu Zaid, Nahwa Tathwir al-Mudharabah, [al-Qahirah:
Maktabah al-Ma’had al-‘Alami li-al-Fikr al-Islami, 2000], h. 11).
Bagian keempat: bermusyarakah dua modal dengan badan (orang) pemilik salah satu modal
tersebut. Bentuk ini menggabungkan syirkah dengan mudharabah; dan hukumnya sah. Apabila di
antara dua orang ada 3000 (tiga ribu) dirham: salah seorang memiliki 1000 dan yang lain m-emiliki
2000, lalu pemilik modal 2000 mengizinkan kepada pemilik modal 1000 untuk mengelola seluruh
modal dengan ketentuan bahwa keuntungan dibagi dua antara mereka (50:50), maka hukumnya
sah. Pemilik modal 1000 mem-peroleh 1/3 (satu pertiga) keuntungan, sisanya yaitu 2/3 (dua
pertiga) dibagi dua antara mereka: pemilik modal 2000 memperoleh ¾ (tiga perempat)-nya dan
amil (mudharib) memperoleh ¼ (seperempat)-nya; hal ini karena amil memperoleh ½ (setengah)
keuntungan. Oleh karena itu, keuntungan (sisa?) tersebut kita jadikan 6 (enam) bagian; 3 (tiga)
bagian untuk amil, (yaitu) porsi (keuntungan) modalnya 2 (dua) bagian dan 1 (satu) bagian ia
peroleh sebagai bagian karena ia mengelola modal mitranya; sedangkan porsi (keuntungan)
modal mitranya adalah 4 (empat) bagian, untuk amil 1 (satu) bagian, yaitu ¼ (seperempat)… Jika
seseorang (shahib al-mal) menye-rahkan kepada mudharib seribu sebagai mudharabah, dan ia
berkata, “Tambahkan seribu dari anda, dan perniaga-kanlah modal dua ribu tersebut dengan
ketentuan dibagi antara kita: untuk anda 2/3 (duapertiga) dan untukku 1/3 (sepertiga),” hal
tersebut boleh hukumnya, dan itu adalah syirkah (musyarakah) dan qiradh (mudharabah)… (Ibn
Qudamah, al-Mughni, [Kairo: Dar al-Hadis, 2004], juz 6, h. 348).
“Mudharib (pengelola) boleh menyertakan dana ke dalam akumulasi modal dengan seizin rabbul
mal (pemilik modal yang awal). Keuntungan dibagi (terlebih duhulu) atas dasar musyarakah
(antara mudharib sebagai penyetor modal/ dana dengan shahibul mal) sesuai porsi modal
masing-masing. Kemudian mudharib mengambil porsinya dari keuntungan atas dasar jasa
pengelolaan dana. Hal itu dinamakan mudharabah musytarakah.” (Wahbah al-Zuhaili, al-
Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah, [Dimasyq: Dar al-Fikr, 2002], h. 107).
2. Hasil Lokakarya Asuransi Syari’ah DSN-MUI dan AASI (Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia)
tanggal 7-8 Jumadil Ula 1426 H / 14-15 Juni 2005 M.
3. Pendapat dan saran peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada 23 Shafar 1427/23
Maret 2006.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : FATWA TENTANG AKAD MUDHARABAH MUSYTARAKAH PADA ASURANSI
SYARIAH
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan:
a. asuransi adalah asuransi jiwa, asuransi kerugian dan reasuransi syariah;
b. peserta adalah peserta asuransi atau perusahaan asuransi dalam reasuransi.
Kedua : Ketentuan Hukum
1. Mudharabah Musytarakah boleh dilakukan oleh perusahaan asuransi, karena merupakan
bagian dari hukum Mudharabah.
2. Mudharabah Musytarakah dapat diterapkan pada produk asuransi syariah yang mengandung
unsur tabungan (saving) maupun non tabungan.
Ketiga : Ketentuan Akad
1. Akad yang digunakan adalah akad Mudharabah Musytarakah, yaitu perpaduan dari akad
Mudharabah dan akad Musyarakah.
2. Perusahaan asuransi sebagai mudharib menyertakan modal atau dananya dalam investasi
bersama dana peserta.
3. Modal atau dana perusahaan asuransi dan dana peserta diinves-tasikan secara bersama-sama
dalam portofolio.
4. Perusahaan asuransi sebagai mudharib mengelola investasi dana tersebut.
5. Dalam akad, harus disebutkan sekurang-kurangnya:
– hak dan kewajiban peserta dan perusahaan asuransi;
– besaran nisbah, cara dan waktu pembagian hasil investasi;
– syarat-syarat lain yang disepakati, sesuai dengan produk asuransi yang diakadkan.
6. Hasil investasi :
Pembagian hasil investasi dapat dilakukan dengan salah satu alternatif sebagai berikut:
Alternatif I :
a. Hasil investasi dibagi antara perusahaan asuransi (sebagai mudharib) dengan peserta (sebagai
shahibul mal) sesuai dengan nisbah yang disepakati.
b. Bagian hasil investasi sesudah disisihkan untuk perusahaan asuransi (sebagai mudharib)
dibagi antara perusahaan asuransi (sebagai musytarik) dengan para peserta sesuai dengan porsi
modal atau dana masing-masing.
Alternatif II :
a. Hasil investasi dibagi secara proporsional antara perusahaan asuransi (sebagai musytarik)
dengan peserta berdasarkan porsi modal atau dana masing-masing.
b. Bagian hasil investasi sesudah disisihkan untuk perusahaan asuransi (sebagai musytarik)
dibagi antara perusahaan asuransi sebagai mudharib dengan peserta sesuai dengan nisbah yang
disepakati.
7. Apabila terjadi kerugian maka perusahaan asuransi sebagai musytarik menanggung kerugian
sesuai dengan porsi modal atau dana yang disertakan.
Keempat: Kedudukan Para Pihak dalam Akad Mudharabah Musytarakah
1. Dalam akad ini, perusahaan asuransi bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan sebagai
musytarik (investor).
2. Peserta (pemegang polis) dalam produk saving, bertindak sebagai shahibul mal (investor).
3. Para peserta (pemegang polis) secara kolektif dalam produk non saving, bertindak sebagai
shahibul mal (investor).
Kelima: Investasi
Perusahaan asuransi selaku pemegang amanah wajib melakukan investasi dari dana yang
terkumpul.
Investasi wajib dilakukan sesuai dengan prinsip syariah.
Tabarru’ pada Asuransi Syari’ah (Kontribusi dari Administrator)
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 53/DSN-MUI/III/2006 tentang
Tabarru’ pada Asuransi Syari’ah.
Menimbang :
Mengingat :
1. Firman Allah SWT, antara lain:
– Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu
menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu.
Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar. (QS. al-
Nisa’ [4]: 2).
– “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang
mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahtera-an) mereka. Oleh
sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar.” (QS. al-Nisa’ [4]:9).
– “Hai orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan
apa yang telah dibuat untuk hari esok (masa depan). Dan bertaqwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. al-Hasyr [59]: 18).
2. Firman Allah SWT tentang prinsip-prinsip bermu’amalah, baik yang harus dilaksanakan maupun
dihindarkan, antara lain:
– “Hai orang yang beriman! Tunaikanlah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali
yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika
kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hokum-hukum menurut yang
dikehendaki-Nya. (QS. al-Maidah [5]: 1).
– “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya dan apabila kamiu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. al-Nisa’ [4]:58).
– “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian memakan (mengambil)harta orang lain secara batil,
kecuali jika berupa perdagangan yang dilandasi atas sukarela di antara kalian. Dan janganlah
kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. al-
Nisa’ [4]: 29).
3. Firman Allah SWT tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif,
antara lain :
– “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolongmenolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya
Allah amat berat siksa-Nya” (QS. al-Maidah [5]: 2).
4. Hadis-hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang beberapa prinsip bermu’amalah, antara
lain:
– “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan
kesulitan darinya pada hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka)
menolong saudaranya” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
– “Perumpamaan orang beriman dalam kasih sayang, saling mengasihi dan mencintai bagaikan
tubuh (yang satu); jikalau satu bagian menderita sakit maka bagian lain akan turut
menderita” (HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir).
– “Seorang mu’min dengan mu’min yang lain ibarat sebuah bangunan, satu bagian menguatkan
bagian yang lain” (HR Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari).
– “Barang siapa mengurus anak yatim yang memiliki harta, hendaklah ia perniagakan, dan
janganlah membiarkannya (tanpa diperniagakan) hingga habis oleh sederkah (zakat dan
nafakah)” (HR. Tirmizi, Daraquthni, dan Baihaqi dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya
Abdullah bin ‘Amr bin Ash).
– “Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat kecuali syarat yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf).
– “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (Hadis
Nabi riwayat Ibnu Majah dari ‘Ubadah bin Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Abbas, dan Malik dari
Yahya).
5. Kaidah fiqh:
– “Pada dasarnya, semua bentuk mu’amalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya.”
– “Segala mudharat harus dihindarkan sedapat mungkin.”
– “Segala mudharat (bahaya) harus dihilangkan.”
Memperhatikan:
1. Pendapat para ulama, antara lain:
– Sejumlah dana (premi) yang diberikan oleh peserta asuransi adalah tabarru’ (amal kebajikan)
dari peserta kepada (melalui) perusahaan yang digunakan untuk membantu peserta yang
memerlukan berdasarkan ketentuan yang telah disepakati; dan perusahaan memberikannya
(kepada peserta) sebagai tabarru’ atau hibah murni tanpa imbalan.(Wahbah al-Zuhaili, al-
Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah, [Dimasyq: Dar al-Fikr, 2002], h. 287).
– Analisis fiqh terhadap kewajiban (peserta) untuk memberikan tabarru’ secara bergantian dalam
akad asuransi ta’awuni adalah “kaidah tentang kewajiban untuk memberikan tabarru’” dalam
mazhab Malik. Mushthafa Zarqa’, Nizham al-Ta’min, h. 58-59; Ahmad Sa’id Syaraf al-Din, ‘Uqud
al-Ta’min wa ‘Uqud Dhaman al-Istitsmar, h. 244-147; dan Sa’di Abu Jaib, al-Ta’min bain al-Hazhr
wa al-Ibahah, h. 53).
– Hubungan hukum yang timbul antara para peserta asuransi sebagai akibat akad ta’min jama’i
(asuransi kolektif) adalah akad tabarru’; setiap peserta adalah pemberi dana tabarru’ kepada
peserta lain yang terkena musibah berupa ganti rugi
(bantuan, klaim) yang menjadi haknya; dan pada saat yang sama ia pun berhak menerima dana
tabarru’ ketika terkena musibah (Ahmad Salim Milhim, al-Ta’min al-Islami, h, 83).
2. Hasil Lokakarya Asuransi Syari’ah DSN-MUI dengan AASI (Asosiasi Asuransi Syariah
Indonesia) tanggal 7-8 Jumadi al-Ula 1426 H / 14-15 Juni 2005 M.
3. Pendapat dan saran peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada 23 Shafar 1427/23
Maret 2006.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : FATWA TENTANG AKAD TABARRU’ PADA ASURANSI SYARI’AH
Pertama : Ketentuan Umum
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan:
– a. asuransi adalah asuransi jiwa, asuransi kerugian dan reasuransi syariah;
– b. peserta adalah peserta asuransi (pemegang polis) atau perusahaan asuransi dalam
reasuransi syari’ah.
Kedua : Ketentuan Hukum
– 1. Akad Tabarru’ merupakan akad yang harus melekat pada semua produk asuransi.
– 2. Akad Tabarru’ pada asuransi adalah semua bentuk akad yang dilakukan antar peserta
pemegang polis.
Ketiga : Ketentuan Akad
1. Akad Tabarru’ pada asuransi adalah akad yang dilakukan dalam bentuk hibah dengan tujuan
kebajikan dan tolong¬menolong antar peserta, bukan untuk tujuan komersial.
2. Dalam akad Tabarru’, harus disebutkan sekurang-kurangnya:
– a. hak & kewajiban masing-masing peserta secara individu;
– b. hak & kewajiban antara peserta secara individu dalam akun tabarru’ selaku peserta dalam arti
badan/kelompok;
– c. cara dan waktu pembayaran premi dan klaim;
– d. syarat-syarat lain yang disepakati, sesuai dengan jenis asuransi yang diakadkan.
Keempat : Kedudukan Para Pihak dalam Akad Tabarru’
– 1. Dalam akad Tabarru’, peserta memberikan dana hibah yang akan digunakan untuk menolong
peserta atau peserta lain yang tertimpa musibah.
– 2. Peserta secara individu merupakan pihak yang berhak menerima dana
tabarru’ (mu’amman/mutabarra’lahu, dan secara kolektif selaku penanggung
(mu’ammin/mutabarri’).
– 3. Perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dana hibah, atas dasar akad Wakalah dari
para peserta selain pengelolaan investasi.
Kelima : Pengelolaan
– 1. Pembukuan dana Tabarru’ harus terpisah dari dana lainnya.
– 2. Hasil investasi dari dana tabarru’ menjadi hak kolektif peserta dan dibukukan dalam akun
tabarru’.
– 3. Dari hasil investasi, perusahaan asuransi dapat memperoleh bagi hasil berdasarkan akad
Mudharabah atau akad Mudharabah Musytarakah, atau memperoleh ujrah (fee) berdasarkan
akad Wakalah bil Ujrah.
Keenam : Surplus Underwriting
– 1. Jika terdapat surplus underwriting atas dana tabarru’, maka boleh dilakukan beberapa
alternatif sebagai berikut:
– a. Diperlakukan seluruhnya sebagai dana cadangan dalam akun tabarru’.
– b. Disimpan sebagian sebagai dana cadangan dan dibagikan sebagian lainnya kepada para
peserta yang memenuhi syarat aktuaria/manajemen risiko.
– c. Disimpan sebagian sebagai dana cadangan dan dapat dibagikan sebagian lainnya kepada
perusahaan asuransi dan para peserta sepanjang disepakati oleh para peserta.
2. Pilihan terhadap salah satu alternatif tersebut di atas harus disetujui terlebih dahulu oleh
peserta dan dituangkan dalam akad.
Ketujuh : Defisit Underwriting
– 1. Jika terjadi defisit underwriting atas dana tabarru’ (defisit tabarru’), maka perusahaan asuransi
wajib menanggulangi kekurangan tersebut dalam bentuk Qardh (pinjaman).
– 2. Pengembalian dana qardh kepada perusahaan asuransi disisihkan dari dana tabarru’.
Ditetapkan di: Jakarta
Tanggal : 23 Maret 2006 / 23 Shafar 1427 H
DEWAN SYARI’AH NASIONAL
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua, DR. KH. M.A Sahal Mahfudh
Sekretaris, Drs. H.M. Ichwan Sam
(Sumber Halal Guide .INFO – Guide to Halal and Islamic Lifestyle)
http://www.halalguide.info _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 14 September, 2007, 13:25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s